Senin, 02 Mei 2011

Psikologi Sosial

Rabu, 10 Maret 2010
PSIKOLOGI SOSIAL
A. PENDAHULUAN

ISTILAH “ILMU JIWA” DAN “PSIKOLOGI”

• ILMU JIWA ADALAH ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG JIWA.
• ILMU JIWA DIGUNAKAN SECARA LUAS, meliputi segala pememikiran, pengetahuan, tanggapan, khayalan dan spekulasi jiwa.
• PSIKOLOGI ADALAH ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG GEJALA-GEJALA JIWA.
• Psikologi berasal dari kata PSYCHE = Jiwa, dan LOGOS = Ilmu. Istilah yang sering dipakai dalam dunia Ilmu ( scientific), yang bias diuji, diukur dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan metode-metode ilmiah yang di akui.

SEJARAH ILMU JIWA.

• ILMU JIWA KUNO dipelopori oleh Plato dan Aristoteles, mempelajari tentang hakikat jiwa manusia dan hakikat jiwa makhluk lainnya. Dan pemikirannya cenderung kearah filsafat, dan manusia di anggap konstan dan tidak berubah, dan jiwa itu terpisah dari raga.
• ILMU JIWA MODERN ( Psikologi) lahir sejak akhir abad ke 19 dengan lahirnya aliran Experemental psychology, yang mencoba menelaah tentang jiwa bukan saja melalui kajian filsafat, tetapi juga menggunakan metode ilmiah yang seobyektif mungkin.

PENDAPAT AHLI ILMU JIWA.
• PLATO (400 s.m.) : Jiwa manusia dibagi 2, yakni jiwa rohaniah (jiwa hidup abadi/kekal) dan jiwa badaniah (musnah bersama raga manusia). Jiwa badaniah dibagi 2 : Jiwa (kemauan) dan Nafsu perasaan
• ARISTOTELES (384-323 s.m.) : Ilmu mengenai gejala-gejala hidup. Setiap ada kehidupan berarti ada Jiwa (manusia, hewan dan tumbuh2an). Ada 3 macam jiwa : Jiwa Vegetatif (tumbuh2an), jiwa Sensitif (Hewan) dan Jiwa Intelektual (Manusia).
• DESCARTER (1596-1650 m): Manusia terdiri 2 macam Zat yaitu : Res cogitans ( zat yang dapat berpikir) tidak terikat pada hukum alam dan bersifat rohaniah (zat roh) dan Res extensa (zat yang mempunyai luas) yang terdiri dari materi yang terikat dengan hokum alam. Kedua zat itu berbeda dan terpisah hidupnya. Jadi ilmu jiwa adalah pengetahuan tentang gejala-gejala pemikiran/kesadaran manusia (terlepas dari raganya).
• JOHN LOCKE (1632-1704 m): aliran filsafat empirisme, yang menekankan pada pengalaman merupakan sumber segala pengetahuan. Pengetahuan itu adalah refleksi dari kumpulan sensasi yang diterima pancaindera.
• DAVID HUME ( 1711-1776 m) : merupakan aliran sensasi dan refleksi John Locke, dan menambahkan pada unsure pengalaman lainnya yang disebut : impression ( rasa) dan ideas ( ingatan).
• WILHELM WUNDT ( 1875) : aliran psikologi ekprimental yang menekankan pada gejala-gejala psikis yang berlangsung didalam jiwa yang sadar pada diri manusia. Dan jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan yang utuh dari seluruh unsure yang ada dalam diri manusia. (teori Gestalt).
• SIGMUND FREUD (1856-1939) : Jiwa manusia dipengaruhi oleh dua daya yang ada, yakni alam sadar dan alam tidak sadar. Karena dinamika alam tak sadar sangat besar melebihi alam sadar manusia.

IKHTISAR LAPANGAN PSIKOLOGI

• PSIKOLOGI TEORITIS : Psikologi Umum dan Psikologi Khusus(Perkembangan, Kepribadian, social, pendidikan psikodiagnostik, psikopatologi )
• PSIKOLOGI TERAPAN (PRAKTIS) : Psikologi : Klinis, perusahaan, pendidikan.

OBYEK PSIKOLOGI

• Manusia serta kegiatannya dalam hubungan dengan lingkungannya ( Hakikat manusia). Manusia Sebagai Makhluk Individual, social dan berketuhanan.

B. ILMU JIWA SOSIAL.
Psikologi social adalah ilmu yang mempelajari tentang kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi social.

Pokok-pokok materi Psikologi Sosial adalah :
1. Hubungan antar manusia.
2. Kehidupan manusia dalam kelompok.
3. Sifat dan struktur kelompok
4. Pembentukan norma social
5. Peranan kelompok dalam perkembangan individu.
6. Kepemimpinan
7. Dinamika kelompok
8. Motiv dan sikap social
9. Perubahan sikap social

OBYEK MATERIAL PSIKOLOGI SOSIAL

Fakta dan kejadian dalam penghidupan social manusia di masyarakat (gejala social).
Psikologi social adalah berada di antara ilmu Psikologi dan Ilmu Sosiologi.

TOKOH PSIKOLOGI SOSIAL
1. GABRIEL TARDE ( Psikologi Sosial)
2. GUSTAVE LE BON (Psikologi Massa)
3. SIGMUND FREUD (Psikologi Massa)
4. EMILE DURKHEIM (Sosiologi)
5. WILLIEM JAMES & CHARLES H. COOLEY (Psikologi social).
6. KURT LEWIN

DEFINISI PSIKOLOGI SOSIAL ialah ilmu yang mempelajari :
1. Tingkah laku manusia.
2. Tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
3. pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang social.
Kesimpulannya : Ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki pengalaman dan tingkahlaku individu manusia yang dipengaruhi/ditimbulkan oleh situasi-situasi social.

METODE PSIKOLOGI SOSIAL
1. Metode Eksperimen
2. Metode Survei
3. Metode Diagnostik-psikis
4. Metode Sosiometri

C. INTERAKSI SOSIAL.

PENGERTIAN : Interaksi adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu manusia, dimana kelakuan indivudu yang satu mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.

Dalam interaksi social terjadi proses yang kompleks, baik interaksi social yang secara tunggal maupun secara bergabung, selalu dipengaruhi factor-faktor sbb :
1. Faktor Imitasi.
2. Faktor Sugesti.
3. Faktor Identifikasi.
4. Faktor Simpati.

1. Faktor Imitasi, adalah factor peniruan yang dilakukan individu terhadap apa yang diterima melalui pancaindra, baik berupa ucapan, ketrampilan maupun perilaku. Ada beberapa syarat bisa terjadi proses imitas, antara lain :
a. Minat dan perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.
b. Sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang dimitasikan.
c. Keinginan untuk mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi.

2. Faktor Sugesti, adalah proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Ada beberapa syarat bisa terjadi sugesti, antara lain :
a. Karena hambatan berpikir.
b. Karena keadaan pikiran terpecah-pecah.
c. Karena otoritas.
d. Karena mayoritas.
e. Karena merasa sama dan bersedia terhadap sesuatu hal.

3. Faktor Identifikasi, adalah proses interaksi karena ada keinginan seseorang untuk menyamakan dirinya dengan sesuatu hal atau keadaan.
4. Faktor Simpati, adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaaan.
5. Introyeksi, adalah situasi dimana seseorang merasakan bahwa gambaran seseorang sudah begitu dekat karena proses interaksi yang intensif, sehingga tidak begitu mudah untuk menghilangkan kesan yang mendalam tersebut pada dirinya.

6. SITUASI SOSIAL.

Situasi sosial adalah tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Jadi tiap terjadi interaksi sosial dapatlah disebut situasi sosial.
Situasi sosial dapat dibagi dalam 2 golongan :
a. Togethersness situation (situasi kebersamaan)
b. Group situation (situasi kelompok sosial).

a. Situasi kebersamaan, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara kebetulan.
2) Tidak mempunyai interaksi yg khas.
3) Disebut kelompok massa.

b. Situasi kelompok sosial, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara terstruktur, mendalam dan teratur.
2) Mempunyai interaksi yang khusus/khas.
3) Disebut kelompok sosial.



D. SITUASI KELOMPOK SOSIAL

Ada 2 penggolongan utama dalam kelompok sosial :
1. Kelompok Primer ( Primary group)
2. Kelompok Sekunder ( Secondarya group).
3. Kelompok formal dan informal.

1. Kelompok Primer, dengan ciri-ciri : Interaksi sosial terjadi lebih intensif, terjadi face to face (saling mengenal dan sering), dan bersifat kekeluargaan.
Contoh : Keluarga, Rumah tangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok pengajian.

2. Kelompok Sekunder, dengan ciri-ciri : Hubungan tidak langsung, berbentuk formal dan bersifat formal. Fungsia dan peranannya : mencapai suatu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama secara obyektif dan rasional.
Contoh : Partai politik, perhimpunan pekerja, organisasi perusahaan dsbg.nya yang bersifat provit thingking.

3. Kelompok formal dan informal, dengan ciri-ciri :
Kelompok formal Kelompok informal
1. Resmi dan ada aturan tertulis 1. Tidak resmi dan tidak didukung peraturan tertulis.
2. Aturan dirumuskan secara tertulis 2. Mempunyai aturan yang ada tetapi tidak dirumuskan secara tertulis.
3. Ciri interaksi : sama pada kelompok sekunder 3. Ciri interaksi : seperti pada kelompok Primer.

CIRI-CIRI UTAMA KELOMPOK :

1. Mempunyai dorongan (motif) yang sama. Tercermin dari : Keinsyafan yang sama terhadap kelompok; Tujuan yang sama hendak di capai; Mempunyai peran yang sama dalam kelompok (Sence of belongingnes); Menciptakan rasa kerjasama yang erat.
2. Mempunyai pembagian tugas yang jelas berdasarkn perbedaan kecakapan dan kemampuan setiap individu.
3. Mempunyai norma kelompok.

JENIS-JENIS ANGGOTA KELOMPOK SOSIAL.

1. Membership group : Resmi; Ikut aturan dan norma kelompok.(aturan dan normal yang ada dalam kelompok yang baru)
2. Reference group : Tidak resmi; menyetujui norma-norma kelompok dan tujuannya.(kebiasaan atas aturan asal dari individu itu berada)

PEMBENTUKAN NORMA SOSIAL

Norma social adalah patokan-patokan umum mengenai tingkah-laku dan sikap individu anggota kelompok, yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma itu. ( adapt istiadat, tradisi, kebiasaan dll ).

NORMA SOSIAL DIBAGI DALAM :

1. Norma kelaziman : norma yang di ikuti karena kebiasaan/tradisi tanpa berpikir panjang.
2. Norma kesusilaan : aturan yang bersumberkan pada agama, dan mendapatkan sanksi menurut agama.
3. Norma Hukum : aturan atau norma yang dibuat dalam bentuk hukum tertulis dan tidak tertulis, yang mempunyai efek ada sanksi hukumnya yang jelas.
4. Mode ( fashion) : norma yang terbentuk karena kebiasan yang sama, tanpa ada aturan tertulis.
DINAMIKA KELOMPOK

Dinamika kelompok adalah analisis dari hubungan-hubungan kelompok sosial yang berdasarkan prinsip, bahwa tingkah laku dalam kelompok itu adalah hasil dari interaksi yang dinamis antara individu-individu dalam situasi sosial.

EFEKTIFITAS KERJASAMA DALAM KELOMPOK, melalui syarat-syarat :

1. Suasana ( atmosfir) : suasana kerja ditempat kelompok itu berada hendaknya memberi kesan kepada semua anggota, bahwa mereka semua setaraf.
2. Rasa aman ( threat reduction) : Perasaan aman, dan hilang rasa curiga mencurigai antara individu dalam kelompok.
3. Kepemimpinan bergilir ( distributive leadership) : Kepemimpinan yang dilakukan secara bergilir yang dapat membangun kepercayaan pada diri anggota kelompok kerja, bahwa merekapun dapat dan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama dengan pemimpinan yang ada
4. Perumusan tujuan ( goal formulation) : Perumusan tujuan kelompok harus jelas, sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja anggota kelompok.
5. Fleksibilitas (flexibility) : Perencanaan kegiatan harus cukup mengandung fleksibiltas, sehingga dapat dilaksanakan juga bila keadaan sudah berubah, baik karena keadaan dari luar maupun dari dalam kelompok.
6. Mufakat (consensus) : Prinsip kebersamaan kelompok merupakan bentuk dari musyawarah dan mufakat. Sehingga rasa kebersamaan kerja terbentuk.
7. Evaluasi yang sinambung ( continul evaluation) : Penilaian terhadap kegiatan yang telah dilakukan harus dibuat secara terus menerus, sehingga dapat menimbulkan motifasi baru terhadap program yang akan dijalankan berikutnya.

KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF (DINAMIKA KELOMPOK)

Kepemimpinan yg berdasarkan Group Centered Leardership, menjelaskan bahwa setiap orang bisa jadi pemimpin asal ia mampu mementingkan kebutuhan kelompoknya.(dipercayai oleh kelompok dimana dia berada).

Kepemimpinan adalah merupakan keseluruhan dari keterampilan (skill) dan sikap (attitude) dan bisa dipelajari.

Tugas seorang pemimpin dibagi dalam 3 bidang utama : ( Floyd Ruch)
1. Structuring the situation. (membuat struktur yang jelas organisasinya)
2. Controling group behavior.(mengawasi dan menyalurkan tingkahlaku kelompok)
3. Spokesman of the group. (sbg juru bicara dalam dalam kelompok)

Berdasarkan Cara-cara memimpin, maka kepemimpinan dibagi :
1. Pemimpin yang otoriter. (keputusan dilakukan secara otoriter)
2. Demokratis. (keputusan ditentukan bersama oleh Pemimpin dan anggota kelompok)
3. Laissez faire. ( keputusan hanya ditentukan oleh anggota kelompok, pemimpin bersifat pasif).

Syarat Pemimpin :
1. Mempunyai persepsi sosial
2. Kemampuan berfikir abstrak.
3. Kestabilan emosi.



1 komentar: